Kemanakah Kita Akan Berlabuh?
Pada kesempatan kali ini saya akan membagi pengalaman saya ketika memilih perguruan tinggi. Mungkin diantara pembaca sekalian ada yang masih bingung untuk memilih jurusan apa di perguruan tinggi ternama yang kalian inginkan.
Pada saat saya masih SMA, saya sudah sempat berfikir kemana saya akan kuliah, dan jurusan apa yang akan saya ambil. Waktu itu saya masih kelas 11. Pada saat itu saya sudah bingung dan sempat down kareba saya sudah memikirkan kemana saya akan kuliah, bisakah saya kulah. Karena pada saat itu banyak sekali problematika yang sedang saya hadapi. Krisis ekonomi pada saat itu membuat saya hampir jatuh, pada saat itu saya berfikir; jika saya kuliah, apakah orangtua saya mampu membiayai saya kuliah. Belajar dari pengalaman hidup yg saya amati di lingkungan saya. Banyak sekali orang di lingkungan saya yang putus sekolah karena masalah ekonomi. Saya berfikir, jika hidup saya seperti mereka maka kehidupan ini tak akan berubah sama sekali. Di dalam benakku, saya harus nekat. Saya harus membuktikan. Walau saya berada pada kalangan bawah, tapi saya akan membuktikan saya mampu dan saya bisa membuat lowongan pekerjaan untuk semua orang ketika saya sukses nanti.
Hari terus berganti, dan akhirnya saya mulai bertanya kepada guru BK saya di sekolah, jurusan apa yang pantas saya geluti saat kuliah nanti. Lalu guru BK saya menyuruh saya untuk membawa kertas psikotes ketika saya masuk SMA pada saat itu. Saya di usulkan untuk menjadi guru. Kemudian saya berfikir, "jika saya mau jadi guru.. guru apa yaa?" . Sama sekali dalam benak saya tidak terlintas apa-apa tentang cita-cita saya kelak. Ketika saya masih TK memang saya mempunyai cita-cita. Tapi cita-cita itu sering berubah seiring waktu dan perubahan. Dulu waktu TK ingin jadi Polwan, lalu SD ingin jadi Dokter, lalu SMP ingin jadi Guru Agama. Hahaha kadang saya tertawa sendiri jika mengingatnya. Kemudian saat SMA, tak ada yg terbesit dalam fikiran saya, mau jadi apa saya besar nanti?
Kemudian saya meminta saran kepada Ayah saya, saya cocok menjadi apa. Lalu Ayah saya bilang "Cita-cita itu ada ketika kamu mencintai pekerjaanmu". Lalu saya berfikir, cita-cita apakah itu? ...
Hari demi hari telah berlalu, dalam keseharian saya di sekolah saya sangat aktif dalam hal diskusi. Saya hobi menulis. Kemudian teman saya bilang "kamu jadi guru bahasa indonesia aja zer". Menanggapi usul teman saya tersebut, saya hanya tersenyum mendengarnya. Lalu di dalam hati saya berbicara "Apakah saya cocok menjadi guru bahasa indonesia??" . Kemudian saya lapor ke Ayah saya. Saya bilang gini "Pa, jika aku kuliah nanti, aku mau ambil jurusan apa ya?". Lalu ayah saya mengusulkan saya untuk masuk di jurusan Teknik Pertambangan saja. Saya yang tidak menau tentang Teknik pertambangan disuruh Ayah saya masuk ke jurusan itu. Tapi pada saat itu saya memang sudah tau, jika teknik pertambangan harus besar di nilai Kimia. Sedangkan nilai kimia saya tidak terlalu mendukung untuk masuk di jurusan itu. Memang benar, bekerja pada teknik pertambangan adalah prospek terbesar pada saat nanti bekerja, serta gaji yg sangat menggiurkan. Karena Ayah saya ingin kehidupan keluarga kami dapat berubah menjadi lebih baik.
Singkat cerita, saya telah kelas 12. Saya memutuskan untuk mendalami ilmu pertambangan. Dan berusaha faham tentang pelajaran Kimia serta pelajaran lain yang mendukung supaya saya bisa lolos di Jalur Undangan jurusan teknik pertambangan. Kini UN telah di laksanakan. Saya cukup puas dengan hasil yang saya peroleh. Tiba saatnya smua teman-teman saya sibuk mengurusi tentang perguruan tinggi mana yang akan mereka pilih, termasuklah saya. Dalam 3 pilihan yang di berikan saat mengisi format, pilihan pertama saya Adalah Teknik pertambangan. Berharap pada pengumuman SNMPTN nanti ada nama saya di pengumuman tsb di nyatakan lolos. Tapi saya tidak hanya mengandalkan jalur SNMPTN saja, saya juga mengikuti jakur undangan di poltek serta Span-ptkin. Penantian pun tiba. Saat pengumuman SNMPTN di umumkan, saya gagal pada tahap itu. Padahal saya sangat berharap bisa lolos di teknik pertambangan. Kemudian pengumuman poltek, saya pun gagal. Tak pantang dari semua itu. Saya menunggu pengumuman span-ptkin. Dan saya pun lolos di jurusan guru PAI. Saya pun sangat senanng mendengar kabar itu, lalu segera memberitahu Ayah dan Ibu saya. Tapi saya masih mau berusaha untuk masuk di jurusan Teknik pertambangan demi membahagiakan keinginan Ayah saya. Saya pun ikut kembali pada tes SBMPTN pada jurusan yang sama. Tapi alhasil tetap saja saya gagal. Awalnya saya sangat kecewa dan betul-betul kecewa pada hasilnya. Berasa smua ini gak adil bagiku. Tapi aku belajar untul berusaha tegar. Dan Ayahku faham bagaimana rasa kecewaku. Akhirnya Ayah ku menyuruhku ambil saja jurusan Guru PAI. Mungkin Allah memberikan ini jalan terbaik untukku. Dari sekian banyak jalan yang ku coba. Allah memberikan aku petunjuk bahwa aku pantas menjadi guru PAI. Dari kejadian itupun aku belajar, bahwa cita-cita itu datang jika kita mencintai pekerjaannya. Dan kini aku faham. Aku dulu memang lebih senang belajar agama, di banding belajar kimia. Dan kini cita-citaku telah ada ☺ . Sekarang waktunya untuk berjuang kembali meraih cita-cita 😉💪
Pada saat saya masih SMA, saya sudah sempat berfikir kemana saya akan kuliah, dan jurusan apa yang akan saya ambil. Waktu itu saya masih kelas 11. Pada saat itu saya sudah bingung dan sempat down kareba saya sudah memikirkan kemana saya akan kuliah, bisakah saya kulah. Karena pada saat itu banyak sekali problematika yang sedang saya hadapi. Krisis ekonomi pada saat itu membuat saya hampir jatuh, pada saat itu saya berfikir; jika saya kuliah, apakah orangtua saya mampu membiayai saya kuliah. Belajar dari pengalaman hidup yg saya amati di lingkungan saya. Banyak sekali orang di lingkungan saya yang putus sekolah karena masalah ekonomi. Saya berfikir, jika hidup saya seperti mereka maka kehidupan ini tak akan berubah sama sekali. Di dalam benakku, saya harus nekat. Saya harus membuktikan. Walau saya berada pada kalangan bawah, tapi saya akan membuktikan saya mampu dan saya bisa membuat lowongan pekerjaan untuk semua orang ketika saya sukses nanti.
Hari terus berganti, dan akhirnya saya mulai bertanya kepada guru BK saya di sekolah, jurusan apa yang pantas saya geluti saat kuliah nanti. Lalu guru BK saya menyuruh saya untuk membawa kertas psikotes ketika saya masuk SMA pada saat itu. Saya di usulkan untuk menjadi guru. Kemudian saya berfikir, "jika saya mau jadi guru.. guru apa yaa?" . Sama sekali dalam benak saya tidak terlintas apa-apa tentang cita-cita saya kelak. Ketika saya masih TK memang saya mempunyai cita-cita. Tapi cita-cita itu sering berubah seiring waktu dan perubahan. Dulu waktu TK ingin jadi Polwan, lalu SD ingin jadi Dokter, lalu SMP ingin jadi Guru Agama. Hahaha kadang saya tertawa sendiri jika mengingatnya. Kemudian saat SMA, tak ada yg terbesit dalam fikiran saya, mau jadi apa saya besar nanti?
Kemudian saya meminta saran kepada Ayah saya, saya cocok menjadi apa. Lalu Ayah saya bilang "Cita-cita itu ada ketika kamu mencintai pekerjaanmu". Lalu saya berfikir, cita-cita apakah itu? ...
Hari demi hari telah berlalu, dalam keseharian saya di sekolah saya sangat aktif dalam hal diskusi. Saya hobi menulis. Kemudian teman saya bilang "kamu jadi guru bahasa indonesia aja zer". Menanggapi usul teman saya tersebut, saya hanya tersenyum mendengarnya. Lalu di dalam hati saya berbicara "Apakah saya cocok menjadi guru bahasa indonesia??" . Kemudian saya lapor ke Ayah saya. Saya bilang gini "Pa, jika aku kuliah nanti, aku mau ambil jurusan apa ya?". Lalu ayah saya mengusulkan saya untuk masuk di jurusan Teknik Pertambangan saja. Saya yang tidak menau tentang Teknik pertambangan disuruh Ayah saya masuk ke jurusan itu. Tapi pada saat itu saya memang sudah tau, jika teknik pertambangan harus besar di nilai Kimia. Sedangkan nilai kimia saya tidak terlalu mendukung untuk masuk di jurusan itu. Memang benar, bekerja pada teknik pertambangan adalah prospek terbesar pada saat nanti bekerja, serta gaji yg sangat menggiurkan. Karena Ayah saya ingin kehidupan keluarga kami dapat berubah menjadi lebih baik.
Singkat cerita, saya telah kelas 12. Saya memutuskan untuk mendalami ilmu pertambangan. Dan berusaha faham tentang pelajaran Kimia serta pelajaran lain yang mendukung supaya saya bisa lolos di Jalur Undangan jurusan teknik pertambangan. Kini UN telah di laksanakan. Saya cukup puas dengan hasil yang saya peroleh. Tiba saatnya smua teman-teman saya sibuk mengurusi tentang perguruan tinggi mana yang akan mereka pilih, termasuklah saya. Dalam 3 pilihan yang di berikan saat mengisi format, pilihan pertama saya Adalah Teknik pertambangan. Berharap pada pengumuman SNMPTN nanti ada nama saya di pengumuman tsb di nyatakan lolos. Tapi saya tidak hanya mengandalkan jalur SNMPTN saja, saya juga mengikuti jakur undangan di poltek serta Span-ptkin. Penantian pun tiba. Saat pengumuman SNMPTN di umumkan, saya gagal pada tahap itu. Padahal saya sangat berharap bisa lolos di teknik pertambangan. Kemudian pengumuman poltek, saya pun gagal. Tak pantang dari semua itu. Saya menunggu pengumuman span-ptkin. Dan saya pun lolos di jurusan guru PAI. Saya pun sangat senanng mendengar kabar itu, lalu segera memberitahu Ayah dan Ibu saya. Tapi saya masih mau berusaha untuk masuk di jurusan Teknik pertambangan demi membahagiakan keinginan Ayah saya. Saya pun ikut kembali pada tes SBMPTN pada jurusan yang sama. Tapi alhasil tetap saja saya gagal. Awalnya saya sangat kecewa dan betul-betul kecewa pada hasilnya. Berasa smua ini gak adil bagiku. Tapi aku belajar untul berusaha tegar. Dan Ayahku faham bagaimana rasa kecewaku. Akhirnya Ayah ku menyuruhku ambil saja jurusan Guru PAI. Mungkin Allah memberikan ini jalan terbaik untukku. Dari sekian banyak jalan yang ku coba. Allah memberikan aku petunjuk bahwa aku pantas menjadi guru PAI. Dari kejadian itupun aku belajar, bahwa cita-cita itu datang jika kita mencintai pekerjaannya. Dan kini aku faham. Aku dulu memang lebih senang belajar agama, di banding belajar kimia. Dan kini cita-citaku telah ada ☺ . Sekarang waktunya untuk berjuang kembali meraih cita-cita 😉💪
Komentar
Posting Komentar